Posted by : MUHAMMAD SHOLIKIN Selasa, 08 November 2016


            Selamat tinggal kota kelahiran, seakan – akan mata ini tidak ingin terbuka dihari ini, dengan terpaksa mata ini membukakan kelopak matanya suara yang memanggilku berkali – kali terdengar sangat keras didalam kamarku, menyuruhku untuk membukakan pintu dan saya harus keluar...
Totk tok tok
Dengan tidak sabar seorang mengetuk pintu kamarku karena sedari tadi aku sudah dipanggil – panggil tidak kunjung keluar dari kamar.
Iya sebentar lagi, sahutku dengan nada lirih
Orangtuaku menginginkanku untuk singgah di pondok pesantren entah apa namanya atau dimana tempatnya saya tidak mengerti, karena aku tidak ada niatan untuk semua itu sebenarnya, aku hanya menuruti apa keinginan kedua orangtuaku mungkin hanya itu yang dapat aku kasih untuk membanggakan kedua orangtuaku. Langkah lirih mengantarku kedepan rumah, mobil serta perabotan sudah siap didepan.
Lama sekali dadannya anak papa ini, cepat masuk ke mobil. Suara manja papa memujiku sambil mengelus – ngelus kepalaku.
Setelah perjalalanan sangat jauh dan cukup untuk melelahkan hingga aku tertidur didalam mobil akhirnya sampai juga kepada tempat yang kami tuju, orangtuaku tidak basa – basi langsung mencari pengurus pondok tersebut serta melunasi segala bentuk administrasi. Setelah dari ruangan itu saya diantar oleh kakak yang sangat cantik dan ramah menurut pandangan pertamaku itu kedalam sebuah ruangan atau yang sering disebut oleh penduduk ruangan itu dengan sebutan kamar. Ternyata didalam kamar tersebut banyak juga penduduknya orangnya juga gokil – gokil sepertinya, semua itu saya rasakan saat saya baru masuk kedalam kamar tersebut saya disambut dengan sangat ramah oleh semua. Satu persatu melontarkan perkenalannya disini, setelah sedikit kami baru mengobrol orang tuaku menghentikan semua itu, dan saya disuruh keluar.
Papa dan mama pulang dulu ya, jangan nakal – nakal disini, banyak temannya kan. Dari tadi papa lihat perbincangan pertama kalian sangat menyenangkan. Pamit papa mewakili mama untuk mereka kembali kerumah.
Iya, pa ma. Hati – hati dijalan ya...
Akhirnya mereka perlahan meninggalkanku, air mata ini sedikit mengeluarkan air. Tetapi dari jarak jauh ada seseorang yang mengejutkanku memanggil namaku. Mungkin mereka tahu apa yang sedang aku rasakan karena mereka juga pernah merasakan hal yang serupa yang baru saja aku alami.
Hari demi hari berganti begitu saja, tidak terlalu buruk juga tempat ini, setidaknya tidak seburuk apa yang saya pikirkan dulu – dulu kala.
Setelah hari – hari berjalan mungkin baru sebentar saya mengenal teman – teman baru disini ternya ada yang harus meninggalkan saya, yaitu orang yang pertama kali mengntarkankku kekamar yaitu mbak shofa karena hari ini iyalah hari bahagianya dia, hari ini dia resmi untuk menjadi sarjana atau lebih detailnya hari ini tepat dia diwisuda sebenarnya saya juga ikut senang dengan mendengar kalau dia hari ini diwisuda yang membuat saya sakit hari dia harus meninggalkan tempat ini yang mungkin entah kapan kami akan bertemu lagi. Sedih jika dihayati terlalu dalam, sebelum mbx shofa meninggalkankan saya dan teman – teman semua disini mbak shofa berpesan kepada saya, jadilah anak yang membanggakan kedua orang tua karena kelak kamu akan dibanggakan oleh anak – anakmu nanti. Pesan itu yang membuat sangat sedih untukku.
Berbulan – bulan kemudian enteh berapa bulan saya lupa.
Mbak shofa mengunjungiku dan teman – teman saya, mbak shofa berbinjang panjang lebar disini dan kami hanya menjadi pendengar yang setia, awalnya mbak shofa hanya menceritakan kalau dia kangen dengan kami semua, kangen dengan segala tingkah konyol kami, lama – kelamaan tertuju kepada suatu kejadian yang tidak sedap untu kami dengar yaitu kalau diluar itu ada dunia yang sangat keras, jabatan sebagai sarjana ternyata belum cukup lebih tepatnya mencari pekerjaan dengan jabatana tersebut juga belum mudah jika tuhan tidak menakdirkan pekerjaan itu kepada kita. Katanya mbak shofa sekarang peluang pekerjaan tidak dilihat dari hari nurani pelamar pekerjaan tetapi dilihat dari bagaimana cara pelamar bisa pandai pandai memasuki dunia kerja entah itu dengan cara halal atau haram, untuk itu mbak shofa menyerah untuk mencari pekerjaan seperti itu, mbak shofa berharap kedepan tuhan agar diangkatan kami pemerintah memberika kemudahan kedapa sarjana yang mempunyai titel santri, semoga angkatan saya tidak selicik dan sesulit angkatan mbak shofa amin. Mbak shofa juga sudah mengambil keputusan yang bulat kalau dia yakin mau kembali kepondok dan mengabdi kepada abah yai agar kemudian hari tuhan yang menunjukkan jalan yang terbaik untuknya.

Tidak disangka – sangkan dan nyata, setelah berbulan atau bertahun setelah mbak shofa mengabdi kepada abah yai ternyata ada kejutan yang tidak terduga kalau ada jalan yang sangat indah dibalik semua yang telah terjadi dikehidupannya, ternyata ada seorang lelaki yang ingin meminang mbak shofa dan lelaki tersebut mempunyai titel kepala sekolah negri, mbak shofa tentunya juga sangat menghormati lelaki tersebut karena dulu mbak shofa sangat kesusahan mencari pekerjaan ternya dipinang seseorang yang mempunyai jabatan sebagai kepala sekolah. Setelah berbincang – bincang lama antara pihak satu dan dua akhirnya mbak shofa resmi untuk dinikahi seorang lelaki tersebut.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

►

- Copyright © Dari Santri Untuk Negri - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -