pink
Archive for November 2016
UNTUK PEMIMPIN
Apa jabatanmu wahai
pemimpin
Untuk apa kau menjabat
wahai pemimpin
Lihatlah rakyatmu yang
dulu mempercaraimu sebagai pemimpin
Tapi apa buktinya dari
yang kamu katakan dulu
Engkau menjabat dengan seenaknya dirimu
Engkau justru meremehkan rakyat kecil
Engkau juga meremehkan agama orang lain
Apa itu layak dianggap sebagai pemimpin
Kami sedih melihat
semua itu terjadi
Yang kami sesali
sebenarnya
Kenapa dulu kami
percaya atas omong kosongmu itu
Kami salah memilih
pemimpin sepertimu
Akankan negara ini akan maju
Jika dipimpin oleh seorang yang sepertimu
Atau justru akan hancur seperti bubur
Kami menyesal ya allah
Kami hanya bisa pasrah
kepadamu
Semoga engkau
menunjukan jalan yang terbaik
Untuk pemimpin kami
Yang sudah lupa denga
jalanmu
Andai kami tuhan ataupun malaikat
Kami pasti sudah melaknat pemimpin seperti itu
Kami merasa dibodohi
Dasar pemimpin – pemimpin tidak tahu diri
Tahukah kamu atas semua
yang kamu lakukan
Tahukah kamu seberapa
sakit atas apa yang kamu lakukan
Pemimpin oh pemimpin
Engkau lalai atas semua
tugasmu
Engkau ego dalam
pikiranmu
Engkau mungkin lupa
atas omonganmu sendiri
Taubatlah wahai para pemimpin
Sebelum dirimu sendiri yang akan rugi
Ingat tidak selamanya kamu hidup
Pasti akan dijemput oleh kematian
Semoga secepatnya engkau
tahu
Apa yang telah engkau
perbuat
Dan tidak akan
mengulanginya lagi
Semoga.
CERPEN Mbak Shofa
Selamat tinggal kota kelahiran,
seakan – akan mata ini tidak ingin terbuka dihari ini, dengan terpaksa mata ini
membukakan kelopak matanya suara yang memanggilku berkali – kali terdengar
sangat keras didalam kamarku, menyuruhku untuk membukakan pintu dan saya harus
keluar...
Totk
tok tok
Dengan
tidak sabar seorang mengetuk pintu kamarku karena sedari tadi aku sudah
dipanggil – panggil tidak kunjung keluar dari kamar.
Iya
sebentar lagi, sahutku dengan nada lirih
Orangtuaku
menginginkanku untuk singgah di pondok pesantren entah apa namanya atau dimana
tempatnya saya tidak mengerti, karena aku tidak ada niatan untuk semua itu
sebenarnya, aku hanya menuruti apa keinginan kedua orangtuaku mungkin hanya itu
yang dapat aku kasih untuk membanggakan kedua orangtuaku. Langkah lirih
mengantarku kedepan rumah, mobil serta perabotan sudah siap didepan.
Lama
sekali dadannya anak papa ini, cepat masuk ke mobil. Suara manja papa memujiku
sambil mengelus – ngelus kepalaku.
Setelah
perjalalanan sangat jauh dan cukup untuk melelahkan hingga aku tertidur didalam
mobil akhirnya sampai juga kepada tempat yang kami tuju, orangtuaku tidak basa
– basi langsung mencari pengurus pondok tersebut serta melunasi segala bentuk
administrasi. Setelah dari ruangan itu saya diantar oleh kakak yang sangat
cantik dan ramah menurut pandangan pertamaku itu kedalam sebuah ruangan atau
yang sering disebut oleh penduduk ruangan itu dengan sebutan kamar. Ternyata
didalam kamar tersebut banyak juga penduduknya orangnya juga gokil – gokil
sepertinya, semua itu saya rasakan saat saya baru masuk kedalam kamar tersebut
saya disambut dengan sangat ramah oleh semua. Satu persatu melontarkan
perkenalannya disini, setelah sedikit kami baru mengobrol orang tuaku
menghentikan semua itu, dan saya disuruh keluar.
Papa
dan mama pulang dulu ya, jangan nakal – nakal disini, banyak temannya kan. Dari
tadi papa lihat perbincangan pertama kalian sangat menyenangkan. Pamit papa
mewakili mama untuk mereka kembali kerumah.
Iya,
pa ma. Hati – hati dijalan ya...
Akhirnya
mereka perlahan meninggalkanku, air mata ini sedikit mengeluarkan air. Tetapi
dari jarak jauh ada seseorang yang mengejutkanku memanggil namaku. Mungkin
mereka tahu apa yang sedang aku rasakan karena mereka juga pernah merasakan hal
yang serupa yang baru saja aku alami.
Hari
demi hari berganti begitu saja, tidak terlalu buruk juga tempat ini, setidaknya
tidak seburuk apa yang saya pikirkan dulu – dulu kala.
Setelah
hari – hari berjalan mungkin baru sebentar saya mengenal teman – teman baru
disini ternya ada yang harus meninggalkan saya, yaitu orang yang pertama kali
mengntarkankku kekamar yaitu mbak shofa karena hari ini iyalah hari bahagianya
dia, hari ini dia resmi untuk menjadi sarjana atau lebih detailnya hari ini tepat
dia diwisuda sebenarnya saya juga ikut senang dengan mendengar kalau dia hari
ini diwisuda yang membuat saya sakit hari dia harus meninggalkan tempat ini
yang mungkin entah kapan kami akan bertemu lagi. Sedih jika dihayati terlalu
dalam, sebelum mbx shofa meninggalkankan saya dan teman – teman semua disini
mbak shofa berpesan kepada saya, jadilah anak yang membanggakan kedua orang tua
karena kelak kamu akan dibanggakan oleh anak – anakmu nanti. Pesan itu yang
membuat sangat sedih untukku.
Berbulan
– bulan kemudian enteh berapa bulan saya lupa.
Mbak
shofa mengunjungiku dan teman – teman saya, mbak shofa berbinjang panjang lebar
disini dan kami hanya menjadi pendengar yang setia, awalnya mbak shofa hanya
menceritakan kalau dia kangen dengan kami semua, kangen dengan segala tingkah
konyol kami, lama – kelamaan tertuju kepada suatu kejadian yang tidak sedap
untu kami dengar yaitu kalau diluar itu ada dunia yang sangat keras, jabatan
sebagai sarjana ternyata belum cukup lebih tepatnya mencari pekerjaan dengan
jabatana tersebut juga belum mudah jika tuhan tidak menakdirkan pekerjaan itu
kepada kita. Katanya mbak shofa sekarang peluang pekerjaan tidak dilihat dari
hari nurani pelamar pekerjaan tetapi dilihat dari bagaimana cara pelamar bisa
pandai pandai memasuki dunia kerja entah itu dengan cara halal atau haram,
untuk itu mbak shofa menyerah untuk mencari pekerjaan seperti itu, mbak shofa
berharap kedepan tuhan agar diangkatan kami pemerintah memberika kemudahan
kedapa sarjana yang mempunyai titel santri, semoga angkatan saya tidak selicik
dan sesulit angkatan mbak shofa amin. Mbak shofa juga sudah mengambil keputusan
yang bulat kalau dia yakin mau kembali kepondok dan mengabdi kepada abah yai
agar kemudian hari tuhan yang menunjukkan jalan yang terbaik untuknya.
Tidak
disangka – sangkan dan nyata, setelah berbulan atau bertahun setelah mbak shofa
mengabdi kepada abah yai ternyata ada kejutan yang tidak terduga kalau ada
jalan yang sangat indah dibalik semua yang telah terjadi dikehidupannya,
ternyata ada seorang lelaki yang ingin meminang mbak shofa dan lelaki tersebut
mempunyai titel kepala sekolah negri, mbak shofa tentunya juga sangat
menghormati lelaki tersebut karena dulu mbak shofa sangat kesusahan mencari
pekerjaan ternya dipinang seseorang yang mempunyai jabatan sebagai kepala
sekolah. Setelah berbincang – bincang lama antara pihak satu dan dua akhirnya
mbak shofa resmi untuk dinikahi seorang lelaki tersebut.
NEGRIKU INDONESIA UNTUKKU SANTRI
Bagaimana kabar negriku
indonesia
Sudah
lama aku tidak menyapa indonesia
Kabar baik atau kabar
buruk yang akan aku dengar
Sudahkah
jaya atau malah menjadi belantara
Singgahku ditempat
kehidupan islam
Membatasiku untuk tahu apa indonesia
Bagaimana dengan
penjabat – penjabat
Mentri – metri yang ada di indonesia
Apakah mereka
menjalankan tugasnya dengan yang semestinya
Apakah
mereka malah menjerumuskan warga indonesia kedalam api
Apakah mereka tahu
tentang islam yang sebemarnya
Apa
mereka menerapkan islam dalam tugasnya
Bagaimana indahnya
kalau indonesia diselimuti islam
Bagaimana mulianya indonesia jika ada islam
Bagaimana indonesia
dengan islam
Jangan
hanya sekedar agama
Tapi tahu bagaimana
agama semestinya
Apa harus santri yang menjadi pemimpin
Apa harus santri yang
harus menjadi mentri
Agar indonesia bisa berantai dengan islam
Islam yang semestinya
seperti yang diajarkan
Bukan islam yang hanya sekedar nama saja
pesan dari santri
Santri
ya itulah kami, disini kami bersatu, bergabung dalam suatu kebajikan yang indah
agamaku yaitu islam. Pondok pesantren itulah nama tempat kami, nahdhotul ulama’
sandaran kami, al qur an dan hadist tuntunan kami, kami disini bersatu dari
berbagai penjuru seluruh indonesia bersatu, dari berbagai kepala kami berbeda
tetapi tetap menjunjung kesatuan bhineka tunggal eka, dari berbagai orang tua
yang berbeda, tapi kami sadar kalau kami semua iyalah satu keturunan nabi adam
A,s. Tidak perlu saling mengejek, saling merendahkan, atau saling membenci,
satu sama lain, yang semestinya kami lakukan iyalah saling mendukung, saling
memiliki, saling memberi semangat karena kami semua adalah keluarga besar islam
yang sejalan menuju ridho ilalhi yaitu allah swt.
Salah
satu dari kami ada yang sedih disitu kami menemukan makna arti dari sebuah
kekeluargaan bahwa kami juga merasakan kesedihan tersebut, salah satu dari kami
ada yang sakit kami juga merasakan kesakitannya, bahkan salah satu dari kami
merasa bahagia kami juga tidak lupa untuk meraskan kebahagiaan itu juga.
Dunia
siapa yang tidak menggilainya, tidak hanya pejabat tinggi, orang tinggi,
petani, bahkan santri juga menggilainya tidak hanya satu mungkin bisa lebih,
tapi gilanya santri dengan dunia tidak melebihi dari ajaran yang mereka dapat.
Karena pada hakekatnya santri hanyalah perjalanan saja, jika kita sudah
melewati perjalan itu ya sudah, kita akan keluar dari itu dan kami akan mencari
jalan sendiri yang tentunya mendapat ridho illahi. Kami juga butuh pekerjaan
untuk bisa menghidupi masa depan kami, tidak hanya menghidupkan diri ini
sendiri melainkan juga untuk menghidupkan keluarga kami maupun saudara –
saudara kami yang ada di dalam maupun di luar.
Saya
berharap penjabat tinggi mau membukakan pintunya untuk kami, jangan pandang
kami sebelah mata saja sebenarnya kami semua itu sama, beri kami peluang untuk
pekerjaan itu, jika kami tidak pantas untuk menjabat jabatan yang tinggi kami
harap ada jabatan yang lebih pantas untuk kami, atau ada pekerjaan yang mulia
untuk kami kerjakan. Jadi setelah kami keluar dari pesantren kami tidak
kebingungan untuk mencari pekerjaan karena kami tidak punya apa – apa. Atau
lebihnya tidak ada pekerjaan yang menerima kami.
Apa
tidak ada harapan kalau indonesia dipimpin oleh seorang santri, indonesia yang
terkenal dengan agama islamnya tetapi islam tidak ada figur dalam pembangunan
indonesia itu sendiri, seakan akan islam hanya lambang saja tidak ada peran
bagi seorang islam.
WAHAI PEMIMPIN
Wahai para pemimpin
pemimpin bangsa
Ingatkah kamu tentang
demontrasi
Yang pernah kau ucap
didepan mereka semua
Wahai para pemimpin
pemimpin bangsa
Engkau melaksanakan
tugasmu tidak seperti apa yang kau ucap
Kami telah kau bodohi
dengan seribu cara pintarmu



