Selamat tinggal kota kelahiran,
seakan – akan mata ini tidak ingin terbuka dihari ini, dengan terpaksa mata ini
membukakan kelopak matanya suara yang memanggilku berkali – kali terdengar
sangat keras didalam kamarku, menyuruhku untuk membukakan pintu dan saya harus
keluar...
Totk
tok tok
Dengan
tidak sabar seorang mengetuk pintu kamarku karena sedari tadi aku sudah
dipanggil – panggil tidak kunjung keluar dari kamar.
Iya
sebentar lagi, sahutku dengan nada lirih
Orangtuaku
menginginkanku untuk singgah di pondok pesantren entah apa namanya atau dimana
tempatnya saya tidak mengerti, karena aku tidak ada niatan untuk semua itu
sebenarnya, aku hanya menuruti apa keinginan kedua orangtuaku mungkin hanya itu
yang dapat aku kasih untuk membanggakan kedua orangtuaku. Langkah lirih
mengantarku kedepan rumah, mobil serta perabotan sudah siap didepan.
Lama
sekali dadannya anak papa ini, cepat masuk ke mobil. Suara manja papa memujiku
sambil mengelus – ngelus kepalaku.
Setelah
perjalalanan sangat jauh dan cukup untuk melelahkan hingga aku tertidur didalam
mobil akhirnya sampai juga kepada tempat yang kami tuju, orangtuaku tidak basa
– basi langsung mencari pengurus pondok tersebut serta melunasi segala bentuk
administrasi. Setelah dari ruangan itu saya diantar oleh kakak yang sangat
cantik dan ramah menurut pandangan pertamaku itu kedalam sebuah ruangan atau
yang sering disebut oleh penduduk ruangan itu dengan sebutan kamar. Ternyata
didalam kamar tersebut banyak juga penduduknya orangnya juga gokil – gokil
sepertinya, semua itu saya rasakan saat saya baru masuk kedalam kamar tersebut
saya disambut dengan sangat ramah oleh semua. Satu persatu melontarkan
perkenalannya disini, setelah sedikit kami baru mengobrol orang tuaku
menghentikan semua itu, dan saya disuruh keluar.
Papa
dan mama pulang dulu ya, jangan nakal – nakal disini, banyak temannya kan. Dari
tadi papa lihat perbincangan pertama kalian sangat menyenangkan. Pamit papa
mewakili mama untuk mereka kembali kerumah.
Iya,
pa ma. Hati – hati dijalan ya...
Akhirnya
mereka perlahan meninggalkanku, air mata ini sedikit mengeluarkan air. Tetapi
dari jarak jauh ada seseorang yang mengejutkanku memanggil namaku. Mungkin
mereka tahu apa yang sedang aku rasakan karena mereka juga pernah merasakan hal
yang serupa yang baru saja aku alami.
Hari
demi hari berganti begitu saja, tidak terlalu buruk juga tempat ini, setidaknya
tidak seburuk apa yang saya pikirkan dulu – dulu kala.
Setelah
hari – hari berjalan mungkin baru sebentar saya mengenal teman – teman baru
disini ternya ada yang harus meninggalkan saya, yaitu orang yang pertama kali
mengntarkankku kekamar yaitu mbak shofa karena hari ini iyalah hari bahagianya
dia, hari ini dia resmi untuk menjadi sarjana atau lebih detailnya hari ini tepat
dia diwisuda sebenarnya saya juga ikut senang dengan mendengar kalau dia hari
ini diwisuda yang membuat saya sakit hari dia harus meninggalkan tempat ini
yang mungkin entah kapan kami akan bertemu lagi. Sedih jika dihayati terlalu
dalam, sebelum mbx shofa meninggalkankan saya dan teman – teman semua disini
mbak shofa berpesan kepada saya, jadilah anak yang membanggakan kedua orang tua
karena kelak kamu akan dibanggakan oleh anak – anakmu nanti. Pesan itu yang
membuat sangat sedih untukku.
Berbulan
– bulan kemudian enteh berapa bulan saya lupa.
Mbak
shofa mengunjungiku dan teman – teman saya, mbak shofa berbinjang panjang lebar
disini dan kami hanya menjadi pendengar yang setia, awalnya mbak shofa hanya
menceritakan kalau dia kangen dengan kami semua, kangen dengan segala tingkah
konyol kami, lama – kelamaan tertuju kepada suatu kejadian yang tidak sedap
untu kami dengar yaitu kalau diluar itu ada dunia yang sangat keras, jabatan
sebagai sarjana ternyata belum cukup lebih tepatnya mencari pekerjaan dengan
jabatana tersebut juga belum mudah jika tuhan tidak menakdirkan pekerjaan itu
kepada kita. Katanya mbak shofa sekarang peluang pekerjaan tidak dilihat dari
hari nurani pelamar pekerjaan tetapi dilihat dari bagaimana cara pelamar bisa
pandai pandai memasuki dunia kerja entah itu dengan cara halal atau haram,
untuk itu mbak shofa menyerah untuk mencari pekerjaan seperti itu, mbak shofa
berharap kedepan tuhan agar diangkatan kami pemerintah memberika kemudahan
kedapa sarjana yang mempunyai titel santri, semoga angkatan saya tidak selicik
dan sesulit angkatan mbak shofa amin. Mbak shofa juga sudah mengambil keputusan
yang bulat kalau dia yakin mau kembali kepondok dan mengabdi kepada abah yai
agar kemudian hari tuhan yang menunjukkan jalan yang terbaik untuknya.
Tidak
disangka – sangkan dan nyata, setelah berbulan atau bertahun setelah mbak shofa
mengabdi kepada abah yai ternyata ada kejutan yang tidak terduga kalau ada
jalan yang sangat indah dibalik semua yang telah terjadi dikehidupannya,
ternyata ada seorang lelaki yang ingin meminang mbak shofa dan lelaki tersebut
mempunyai titel kepala sekolah negri, mbak shofa tentunya juga sangat
menghormati lelaki tersebut karena dulu mbak shofa sangat kesusahan mencari
pekerjaan ternya dipinang seseorang yang mempunyai jabatan sebagai kepala
sekolah. Setelah berbincang – bincang lama antara pihak satu dan dua akhirnya
mbak shofa resmi untuk dinikahi seorang lelaki tersebut.